“Mmm.. Desi XXX “Dia yang kedua, tapi aku juga cuma istri keduanya, istri pertamanya ada di Jakarta dan mungkin tak tahu mengenai aku. emangnya kenapa Mbak?”, tanyaku
“Sudah jam berapa ini? Setiap baris rencana yang kucatat kubayangkan pula langkah-langkah kerja yang akan kulakukan.Setiap hal penting yang muncul dari bayanganku kutulis dalam jurnal. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 5.42 pagi. Seusai mandi dan mengenakan pakaian aku keluar dari kamar mandi. “Buat apa dipikir sekarang, kan masih besok?”, tanyanya lagi. “Mbak, boleh minta rotinya!”, kataku dengan halus. Usahaku yang kuat untuk kembali tidur tak membuahkan hasil. Kuputuskan untuk bangun dan duduk termenung di kursi didalam kamar penginapan. Kudorong sisi kiri tubuh Iswani sehingga membelakangiku dan sama-sama menghadap kesamping kanan. Kubaringkan badanku disebelah kirinya dan kuhadapkan tubuhku kearahnya. “Pingin tahu rasanya?”, tanyanya dengan senyum menggoda dan menuju ke arahku. Setiap baris rencana yang kucatat kubayangkan pula langkah-langkah kerja yang akan kulakukan.Setiap hal penting yang muncul dari bayanganku kutulis dalam jurnal. Ini notanya kamar sudah aku bayar sampai malam ini, jadi besok kalau kamu keluar dari sini jangan kamu bayar lagi tapi kalau